info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

RITONAVIR

24 Februari 2014 Referensi

Apa Ritonavir Itu?

Ritonavir  adalah  obat  yang  dipakai sebagai  bagian  dari terapi  antiretroviral (ART).  Obat  ini  juga  dikenal  sebagai Norvir, dan dibuat oleh Abbott Laboratories. Ritonavir  adalah protease  inhibitor.  Obat golongan  ini mencegah  pekerjaan  enzim protease.  Protease  HIV bertindak  seperti gunting kimia. Enzim ini memotong bahan baku HIV menjadi potongan khusus yang dibutuhkan untuk membangun  virus baru. Protease inhibitor merusak gunting ini.

Siapa Sebaiknya Memakai Ritonavir?

Ritonavir  disetujui  di AS  pada  1996 sebagai  obat antiretroviral  (ARV)  untuk orang terinfeksi  HIV. Obat ini ditelitikan pada orang dewasa dan anak usia satu bulan ke atas.

Tidak ada pedoman tetap tentang kapan sebaiknya  mulai memakai ART. Kita dan dokter  harus mempertimbangkan jumlah CD4, viral load, gejala yang kita alami, dan sikap kita terhadap penggunaan ART. Lembaran  Informasi  (LI)  404 memberi informasi lebih lanjut tentang pedoman penggunaan ART.

Jika kita memakai ritonavir dengan ARV lain, kita dapat mengurangi viral load kita pada tingkat yang sangat rendah dan meningkatkan  jumlah  CD4 kita. Hal ini seharusnya  berarti  kita lebih sehat untuk waktu lebih lama.

Penggunaan ritonavir menyebabkan hati kita bekerja  lebih lamban.  Hal ini dapat meningkatkan  tingkat  obat  lain  dalam darah,  termasuk  protease  inhibitor  lain. Peningkatan  ini  dapat  mengakibatkan interaksi yang berbahaya dengan obat lain. Ritonavir sekarang jarang dipakai sebagai protease  inhibitor.  Obat  ini sangat  sulit ditahan oleh pasien. Namun ritonavir sering dipakai  untuk meningkatkan  tingkat  atau menguatkan (boost) protease inhibitor lain dalam darah. Takaran yang dipakai untuk peningkatan  ini jauh lebih rendah  diban- dingkan takaran anti-HIV yang penuh, dan menyebabkan lebih sedikit efek samping.

Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Waktu HIV menggandakan diri, sebagian dari bibit HIV baru menjadi sedikit berbeda dengan aslinya. Jenis berbeda ini disebut mutan. Kebanyakan mutan langsung mati, tetapi beberapa di antaranya terus menggan- dakan diri, walaupun kita tetap memakai ART – mutan tersebut ternyata kebal terhadap  obat. Jika ini terjadi,  obat tidak bekerja lagi. Hal ini disebut sebagai ‘mengembangkan resistansi’ terhadap obat tersebut. Lihat LI 126 untuk informasi lebih lanjut tentang resistansi.

Kadang  kala, jika virus  kita mengem- bangkan  resistansi  terhadap  satu macam obat, virus juga menjadi resistan terhadap ARV lain. Ini disebut ‘resistansi silang’ atau ‘cross resistance’ terhadap obat atau golongan obat lain.

Resistansi  dapat segera berkembang. Sangat  penting  memakai  ARV  sesuai dengan petunjuk dan jadwal, serta tidak melewati atau mengurangi dosis.

Bagaimana Ritonavir Dipakai?

Ritonavir disediakan dengan bentuk kapsul atau tablet. Takaran penuh (bila ritonavir  dipakai  tanpa protease  inhibitor lain) adalah 600mg dengan dosis dua kali sehari. Untuk anak di atas usia satu bulan, ritonavir  disetujui  dengan  takaran  350- 400mg per meter persegi luas permukaan badan. Namun,  sekarang  ritonavir  sangat jarang dipakai dengan dosis penuh.

Sekarang  ritonavir  lebih sering dipakai untuk menguatkan  protease  inhibitor  lain dalam darah. Biasanya 100mg atau 200mg dipakai  dengan  setiap dosis. Penting  kita mengetahui takaran ritonavir yang diresep- kan oleh dokter, dan cara penggunaannya. Setiap  kapsul  Kaletra/Aluvia  meng- andung  ritonavir  untuk menguatkan  lopi- navir (jenis protease  inhibitor  lain) (lihat LI 446).

Pada 1998, bentuk sirop ritonavir dikem- bangkan. Banyak orang menganggap  rasa sirop sangat tidak enak. Namun beberapa orang  menganggap  bentuk  sirop  lebih cocok,  terutama  untuk  anak.  Jangan menyimpan  sirop ritonavir  dalam kulkas. Botol harus dikocok sebelum obat dipakai. Di apotek, kapsul ritonavir harus disimpan  dalam  kulkas.  Di rumah,  ritonavir kapsul sebaiknya disimpan di kulkas. Bila tidak mungkin disimpan dalam kulkas, ritonavir harus disimpan pada suhu di bawah 25° Celcius dan dipakai dalam 30 hari.

Sekarang ada versi ritonavir dalam bentuk tablet 100mg. Tablet ini tidak harus disimpan dalam suhu dingin, tetapi harus dipakai waktu makan.

Bila ritonavir dipakai oleh orang dewasa atau anak dengan dosis penuh (bukan untuk menguatkan protease inhibitor lain), takaran pada awal lebih rendah dan ditingkatkan secara berangsur selama beberapa hari untuk mengurangi efek samping.

Apa Efek Samping Ritonavir?

Efek samping paling berat dari ritonavir adalah mual, muntah, kembung, dan diare. Beberapa orang juga mengalami kesemutan atau mati rasa di sekitar mulut, atau rasa makanan menjadi aneh. Walau sangat jarang, ritonavir dapat menyebabkan ruam kulit yang gawat, yang disebut sebagai sindrom  Stevens-Johnson  (lihat LI 562). Langsung lapor pada dokter kalau kita mengalami  masalah kulit waktu memakai ritonavir.

Dalam uji coba klinis, sekitar sepertiga orang yang memakai ritonavir dengan dosis penuh harus berhenti  memakainya  akibat efek samping. Namun ada jauh lebih sedikit efek samping bila ritonavir dipakai dengan takaran rendah sebagai penguat.

Untuk banyak orang, efek samping ritonavir hanya berlanjut selama 2-4 minggu.  Bila berlanjut  lebih dari empat minggu, efek samping umumnya tidak pernah hilang.

Bagaimana Ritonavir Berinteraksi dengan Obat Lain?

Ritonavir dapat berinteraksi dengan obat lain, suplemen atau jamu yang kita pakai – lihat LI 407. Interaksi  ini dapat  meng- ubah jumlah masing-masing  obat yang masuk ke aliran darah kita dan meng- akibatkan  overdosis atau dosis rendah. Interaksi baru terus-menerus diketahui. Interaksi yang gawat dapat terjadi dengan obat untuk hipertensi pembuluh paru (pulmonary arterial hypertension) atau untuk disfungsi ereksi (mis. Viagra), serta obat lain dengan nama diakhiri dengan ‘- afil’, obat untuk asma dan obat yang mengendalikan denyut jantung (anti- aritmia). Memakai ritonavir bersamaan dengan saquinavir dapat menyebabkan denyut jantung yang tidak terkendali. Obat lain yang harus diperhatikan termasuk ARV lain, obat yang dipakai untuk mengobati TB (lihat LI 515), dan obat sakit kepala migran. Interaksi  juga dapat terjadi dengan  beberapa antihistamin (obat antialergi), sedatif, obat untuk mengurangi kolesterol, dan obat antijamur. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Ritonavir mengurangi tingkat metadon dalam darah. Perhatikan gejala sedasi (penenang) berlebihan bila obat ini dipakai bersama dengan buprenorfin.

Beberapa pil KB mungkin tidak bekerja jika kita memakai ritonavir. Bicara dengan dokter tentang bagaimana mencegah kehamilan yang tidak direncanakan.

Jamu St. John’s Wort (lihat LI 729) menurunkan tingkat beberapa jenis protease inhibitor dalam darah. Jangan pakai bersamaan dengan ritonavir.

 

Ditinjau 7 Februari 2014 berdasarkan FS 442 The AIDS InfoNet 24 Februari 2014

Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: info@spiritia.or.id Situs web: http://spiritia.or.id/

Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org