info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

TENOFOVIR

07 April 2014 Terapi Antiretroviral

Apa Tenofovir Itu?

Tenofovir (Viread) adalah obat yang dipakai sebagai bagian dari terapi anti- retroviral (ART). Obat ini dibuat oleh Gilead Sciences. Sekarang juga disetujui versi tenofovir generik dibuat oleh Mylan di India.

Tenofovir termasuk golongan analog nu- kleotida atau nucleotide reverse trans- criptase inhibitor (NtRTI). Obat golongan ini menghambat enzim reverse trans- criptase. Enzim ini mengubah bahan genetik (RNA) HIV menjadikannya bentuk DNA. Ini harus terjadi sebelum kode genetik HIV dapat dimasukkan ke kode genetik sel yang terinfeksi HIV.

Siapa Sebaiknya yang Memakai Tenofovir?

Tenofovir disetujui pada 2001 di AS sebagai obat antiretroviral (ARV) untuk orang terinfeksi HIV. Pada 2010, tenofovir disetujui untuk dipakai oleh remaja berusia antara 12-18 tahun. Pada 2011, tenofovir disetujui untuk dipakai oleh anak berusia antara 2-12 tahun. Obat ini belum diuji coba terhadap orang berusia di atas 65 tahun.

Tidak ada pedoman tetap tentang kapan sebaiknya mulai memakai ART. Kita dan dokter harus mempertimbangkan jumlah CD4, viral load, gejala yang kita alami, dan sikap kita terhadap penggunaan ART. Lembaran Informasi (LI) 404 memberi informasi lebih lanjut tentang pedoman penggunaan ART.

Kita harus memberi tahu dokter bila kita mempunyai masalah ginjal. Orang dengan kerusakan pada ginjal mungkin harus memakai dosis tenofovir yang lebih rendah. Jika kita memakai tenofovir dengan ARV lain, kita dapat mengurangi viral load kita pada tingkat yang sangat rendah dan meningkatkan jumlah CD4 kita. Hal ini seharusnya berarti kita lebih sehat untuk

waktu lebih lama.

Tenofovir juga mungkin dapat membantu mengendalikan hepatitis B (lihat LI 505). Namun hepatitis B menjadi lebih buruk pada sebagian orang yang memakai teno- fovir dan kemudian menghentikannya. Se- baiknya kita dites untuk hepatitis B sebelum kita mulai memakai tenofovir untuk meng- obati HIV. Bila kita hepatitis B dan berhenti memakai tenofovir, fungsi hati (ALT – lihat LI 135) kita harus dipantau secara hati-hati selama beberapa bulan.

Tenofovir juga ditelitikan untuk mencegah infeksi HIV. Gilead mengharapkan hanya satu pil per hari cukup untuk pencegahan. Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Waktu HIV menggandakan diri, sebagian dari bibit HIV baru menjadi sedikit berbeda

 

dengan aslinya. Jenis berbeda ini disebut mutan. Kebanyakan mutan langsung mati, tetapi beberapa di antaranya terus menggan- dakan diri, walaupun kita tetap memakai ART – mutan tersebut ternyata kebal terhadap obat. Jika ini terjadi, obat tidak bekerja lagi. Hal ini disebut sebagai ‘mengembangkan resistansi’ terhadap obat tersebut. Lihat LI 126 untuk informasi lebih lanjut tentang resistansi.

Kadang kala, jika virus kita mengem- bangkan resistansi terhadap satu macam obat, virus juga menjadi resistan terhadap ARV lain. Ini disebut ‘resistansi silang’ atau ‘cross resistance’ terhadap obat atau golongan obat lain.

Resistansi dapat segera berkembang. Sangat penting memakai ARV sesuai dengan petunjuk dan jadwal, serta tidak melewati atau mengurangi dosis.

Satu manfaat tenofovir adalah obat ini bekerja terhadap berbagai jenis HIV yang sudah resistan terhadap AZT atau ddI. Bagaimana Tenofovir Dipakai?

Dosis tenofovir yang biasa untuk dewasa adalah 300mg sebagai satu pil sekali sehari, dengan atau tanpa makan. Bila dipakai bersama dengan ddI, tenofovir harus dipakai dengan perut kosong, atau 30 menit sebelum atau jam sesudah ddI-nya.

Saat ini, sebuah prodrug tenofovir, tenofovir alafenamid (TAF), dalam perkem- bangan. Saat diuraikan dalam tubuh, hasilnya adalah tenofovir. Dalam penelitian awal, obat ini jauh lebih manjur daripada tenofovir, dan mungkin efek samping dikurangi.

Anak berusia 2-5 tahun akan memakai bentuk serbuk. Untuk yang berusia 6-12 tahun, disediakan pil yang mengandung 150mg, 200mg dan 250mg. Takaran tergan- tung pada usia dan berat badan.

Tenofovir juga tersedia sebagai gabungan 300mg dengan emtrisitabin (lihat LI 420) 200mg dalam satu pil. Nama pil ini Truvada, dipakai sekali sehari. Juga ada versi gabungan dengan emtrisitabin dan efavirenz (LI 432) 600mg dalam satu pil. Nama pil ini Atripla, juga dipakai sekali sehari. Mylan juga membuat versi gabungan dengan 3TC (300mg) dan efavirenz; versi ini menye- diakan ART satu pil sekali sehari versi generik yang lebih murah.

Apa Efek Samping Tenofovir?

Jika kita mulai memakai ART, kita mungkin mengalami efek samping semen- tara, misalnya sakit kepala, darah tinggi, atau seluruh badan terasa tidak enak. Efek samping ini biasanya lambat laun membaik atau hilang.

Efek samping tenofovir yang paling umum adalah mual, muntah, dan hilang

 

nafsu makan. Tenofovir dapat menga- kibatkan kerusakan pada ginjal. Tingkat kreatinin pada pengguna tenofovir harus dipantau – lihat LI 136. Tenofovir juga dapat merusakkan hati, sehingga sebaiknya kesehatan hati juga sebaiknya dipantau – lihat LI 135.

Tenofovir dapat menyebabkan kehilangan kepadatan tulang – lihat LI 557. Peng- gunaan suplemen kalsium dan vitamin D dapat membantu masalah ini. Hal ini terutama untuk orang dengan osteopenia atau osteoporosis (LI 557), dan juga untuk remaja, karena kepadatan tulang umumnya meningkat pada masa itu.

Bagaimana Tenofovir Berinteraksi dengan Obat Lain?

Tenofovir dapat berinteraksi dengan obat lain, suplemen atau jamu yang kita pakai – lihat LI 407. Interaksi ini dapat meng- ubah jumlah masing-masing obat yang masuk ke aliran darah kita dan meng- akibatkan overdosis atau dosis rendah. Interaksi baru terus-menerus diketahui. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Tenofovir menghasilkan tingkat ddI yang lebih tinggi dalam darah. Bila ddI dipakai bersama dengan tenofovir, takaran ddI harus dikurangi – lihat LI 413. Beberapa pasien mengalami efek samping yang berat terkait dengan tingkat ddI yang tinggi dalam darah. Tingkat tenofovir dalam darah mening- kat bila dipakai bersama dengan protease inhibitor atazanavir atau lopinavir/ ritonavir (Kaletra/Aluvia). Hal ini dapat meningkatkan risiko efek samping teno- fovir. Tenofovir juga mengurangi tingkat atazanavir dalam darah. Bila atazanavir dipakai bersama dengan tenofovir, sebaik-

nya juga dikuatkan dengan ritonavir.

Tenofovir tidak memengaruhi tingkat metadon, ribavirin atau adefovir dalam darah. Tidak diketahui interaksi antara tenofovir dengan buprenorfin.

Tenofovir diuraikan oleh ginjal. Tenofovir tidak dimetabolisasi oleh hati, jadi kemung- kinan obat ini tidak akan berinteraksi dengan sebagian besar obat lain. Namun, beberapa obat dengan nama dengan ‘-ovir’ di belakang, misalnya asiklovir atau gansiklovir, dapat berinteraksi dengan tenofovir.

Selain untuk pencegahan, tenofovir harus dipakai sebagai bagian dari ART terhadap HIV. Biasanya tenofovir dipakai bersama satu analog nukleosida dan satu NNRTI atau satu protease inhibitor.

 

 

 

Diperbarui 7 April 2014 berdasarkan FS 419 The

AIDS InfoNet 31 Januari 2014

 

 

Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: info@spiritia.or.id Situs web: http://spiritia.or.id/

Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org