Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Apa yang terjadi saat kita minum sebutir obat

Bila kita mengerti apa yang terjadi waktu kita minum obat, kita lebih mungkin mengerti pentingnya kepatuhan.

Obat diserap oleh tubuh kita dan masuk ke aliran darah melalui beberapa cara yang berbeda, tergantung dengan cara penggunaan obat tersebut:

Namun, obat yang dipakai dengan cara apa pun akan mencapai tingkat yang tinggi dalam darah, kemudian tingkat akan mulai turun sebagaimana obat diuraikan, umumnya waktu darah disaring oleh hati atau ginjal. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak ini tergantung pada obat, kadang tergantung pada isi perut (beberapa obat diserap lebih cepat atau lebih lambat tergantung pada isinya atau kosongnya perut). Dan jelas, setiap orang berbeda: ada yang menyerap atau menguraikan obat lebih cepat, ada yang lebih lambat.

Obat yang kita pakai selalu diserap lebih cepat daripada tubuh kita dapat menguraikannya. Jadi kepekatan tertinggi tercapai dalam waktu yang relatif singkat, dan kemudian membutuhkan waktu yang lebih lama untuk keluar dari tubuh. Grafik 1 menggambarkan proses tersebut.

Grafik: Setelah dosis pertama
Grafik 1

Seperti ditunjukkan pada grafik, ada tingkat minimal keefektifan obat dalam darah. Bila tingkat obat dalam darah di bawah tingkat ini, virus masih dapat bereplikasi, tetapi virus yang resistan terhadap obat yang dipakai lebih mungkin unggul.

Jadi, asal kita memakai dosis berikut sebelum tingkat obat dalam darah turun di bawah tingkat minimal itu, virus akan tetap dikendalikan, seperti ditunjukkan pada Grafik 2 dan 3.

Grafik: Setelah dosis kedua
Grafik 2
Grafik: Setelah dosis ketiga
Grafik 3

Namun, bila kita terlambat memakai satu dosis, tingkat obat dalam darah dapat turun di bawah tingkat minimal itu, dan hal ini memberi kesempatan pada virus untuk mulai replikasi lagi. Hal ini ditunjukkan oleh Grafik 4.

Grafik: Bila dosis terlambat...
Grafik 4

Untuk kebanyakan jenis obat dan kebanyakan orang, tingkat obat tidak akan segera turun di bawah tingkat efektif. Jadi umumnya ada kelonggaran satu atau dua jam. Namun semua jenis obat berbeda, dan jelas semua orang juga berbeda; ada yang menyerap dan/atau menguraikan obat lebih cepat, ada yang lebih lambat. Jadi sebaiknya kita mengurangi risiko dengan menggunakan dosis sesuai dengan jadwal.

Kalau kita lupa memakai satu dosis, risiko jauh lebih tinggi. Grafik 5 menunjukkan dampak dari kehilangan satu dosis. Jelas ada waktu yang lebih lama untuk virus replikasi tanpa dikendalikan oleh obat.

Grafik: Bila satu dosis dilupakan
Grafik 5

Dampak dari makan

Dampak dari makan
Grafik 6

Tingkat obat dalam darah dapat dipengaruhi oleh makan. Beberapa obat lebih mudah diserap bila ada makanan di perut, sementara ada yang lain yang harus dipakai tanpa makan. Contohnya, ddI harus diminum dengan perut kosong, karena obat ini dihancurkan oleh asam yang dibuat oleh lambung saat mencernakan makan. Bila dipakai dengan makan, tingkat obat dalam darah tidak mencapai tingkat yang dibutuhkan untuk menekan virus, seperti ditujukkan pada Grafik 6.

Kaitan dengan efek samping

Overdosis
Grafik 7

Bila tingkat obat dalam darah melebihi tingkat tertentu, kita akan lebih mungkin mengalami efek samping akibat overdosis. Seperti dibahas sebelumnya, berapa cepatnya obat diserap dan diuraikan dapat dipengaruhi oleh isi perut. Sebagai contoh, efavirenz diserap lebih cepat bila ada lemak dalam perut, dan hal ini dapat menyebabkan jumlah obat dalam darah menjadi terlalu tinggi, dengan akibat efek samping (halusinasi, mimpi jelas) dapat lebih mengganggu. Oleh karena itu, diusulkan efavirenz dipakai dua jam setelah makan, sebaiknya pas sebelum tidur. Dampak ini digambarkan pada Grafik 7.

Masa paro

Semua jenis obat mempunyai ‘masa paro’ yang berbeda. Masa paro menunjukkan berapa cepatnya obat diuraikan dari aliran darah – semakin cepat, semakin pendek masa paronya. Garis biru pada Grafik 8 menunjukkan obat dengan masa paro yang pendek (mis. indinavir); obat jenis ini mungkin harus diminum lebih sering (indinavir harus dipakai setiap 8 jam). Sementara garis hijau menunjukkan obat dengan masa paro yang panjang (mis. efavirenz); obat dengan masa paro lama mungkin dapat dipakai sekali sehari.

Grafik: Dampak dari masa paro
Grafik 8

Bila kita memakai obat dengan masa paro yang pendek, tingkat dalam darah dapat turun dengan tajam. Obat jenis ini dianggap mempunyai ‘jendela terapeutik’ yang sempit. Jadi, untuk obat jenis ini, lebih penting kita tidak terlambat memakainya untuk menghindari risiko tingkat obat turun di bawah tingkat efektif.

Edit terakhir: 11 Agustus 2008