info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Profilaksis kotrimoksazol sangat efektif terhadap malaria

20 Mei 2019, 196 kali dilihat Berita

Penggunaan profilaksis jangka pendek dengan kotrimoksazol, umumnya dipakai untuk mencegah dan mengobati berbagai infeksi terkait AIDS, hampir 100 persen efektif untuk melindungi terhadap malaria, dan tidak menyebabkan resistansi terhadap obat antimalaria sulfadoksin-pirimetamin. Ini menurut penelitian yang dilakukan di Mali dan diterbitkan di Journal of Infectious Diseases edisi 15 November 2005.

Kotrimoksazol dibuktikan mengurangi kematian dan kesakitan pada orang HIV-positif dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan obat ini diusulkan dalam rangkaian terbatas sumber daya oleh UNAIDS untuk semua orang HIV-positif dengan jumlah CD4 di bawah 500, dan semua bayi dilahirkan oleh ibu HIV-positif. Namun kotrimoksazol dan sulfadoksin-pirimetamin bekerja dengan cara yang serupa, dan ada keprihatinan bahwa penggunaan kotrimoksazol secara luas dapat meningkatkan prevalensi parasit malaria yang resistan terhadap sulfadoksin-pirimetamin. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada September 2005 menemukan bahwa kotrimoksazol mengurangi kejadian malaria di antara orang Malawi yang HIV-positif. Namun sebuah penelitian lain yang dilakukan di Malawi, dan diterbitkan pada pertengahan tahun 2005, menemukan bahwa kebanyakan infeksi oportunistik yang dapat dicegah oleh kotrimoksazol adalah jarang, dan malaria dengan kepekaan rendah terhadap kotrimoksazol sangat luas. Oleh karena ini, penelitian tersebut menunjukkan keprihatinan bahwa profilaksis kotrimoksazol untuk orang HIV-positif mungkin lebih berisiko daripada bermanfaat.

Namun, keprihatinan ini mungkin tidak berdasar. “Berdasarkan hasil penelitian baru ini dan bukti jelas bahwa profilaksis [kotrimoksazol] mencegah kematian pada Odha di berbagai rangkaian di Afrika, jelas keprihatinan tentang penyebaran resistansi terhadap sulfadoksin-pirimetamin tidak membenarkan penundaan lebih lanjut pada pelaksanaan profilaksis kotrimokasazol”, ditulis para peneliti.

Para penyidik merancang penelitian ‘open-label’ secara acak yang melibatkan sejumlah 240 anak berusia 5-15 tahun di Mali. Tujuan utama penelitian adalah untuk menguji teori bahwa profilaksis dengan kotrimoksazol mengurangi keefektifan pengobatan sulfadoksin-pirimetamin untuk malaria. Tujuan kedua adalah untuk melihat apakah pengobatan dengan kotrimoksazol mendorong munculnya parasit malaria dengan resistansi.

Anak dalam kelompok kontrol menerima suntikan profilaksis kotrimoksazol (terdiri dari trimetoprim 150mg/m2 dan sulfametoksazol 750mg/m2) tiga hari berturut selama 12 minggu. (Sebuah penelitian sebelumnya di Zambia yang menyelidiki keamanan dan kemanjuran profilaksis kotrimoksazol pada anak HIV-positif memberi dosis oral terdiri dari 240mg [5ml sirop] kotrimoksazol sehari untuk anak di bawah usia lima tahun, dan yang lebih tua 480mg [10ml]). Semua anak dipantau untuk gejala klinis malaria dan contoh darahnya dianalisis untuk melihat apakah mereka mempunyai malaria asimptomatis.

Anak-anak berusia rata-rata sepuluh tahun dan diacak 2:1 pada kelompok pengobatan atau kontrol. Anak dalam kelompok kontrol menerima suntikan kotrimoksazol pada tiga hari berturut-turut per minggu untuk 12 minggu. Pada awalnya, tes darah menunjukkan bahwa 20 persen anak pada kelompok pengobatan dan 16 persen anak di kelompok kontrol terinfeksi oleh parasit malaria.

Pemantauan dilakukan rata-rata 11,8 minggu pada kelompok pengobatan dan 11,7 pada kelompok kontrol. Hanya satu kasus malaria klinis terjadi selama 1890 orang-minggu pemantauan pada kelompok pengobatan. Sebagai pembanding, 72 kasus malaria terjadi selama 681 orang-minggu pemantauan di kelompok kontrol.

“Kemanjuran profilaksis [kotrimoksazol] terhadap malaria yang tidak rumit adalah 99,5 persen”, ditulis para peneliti.

Malaria asimptomatis ditemukan pada tiga dari 466 contoh darah yang didapat dari anak di kelompok pengobatan dan 43 dari 231 contoh darah dari anak di kelompok kontrol. Jadi kotrimoksazol mempunyai 97 persen kemanjuran terhadap malaria asimptomatis.

Para peneliti juga menemukan bahwa anak pada kelompok pengobatan mempunyai lebih sedikit penyakit perut-usus dan membutuhkan lebih sedikit obat resep dibandingkan anak pada kelompok kontrol. Mereka juga menemukan bahwa profilaksis kotrimoksazol tampaknya meningkatkan tingkat hemoglobin yang menghasilkan kejadian anemia yang lebih rendah pada kelompok pengobatan.

Hanya satu efek kerugian ditemukan pada kelompok kotrimoksazol. Kasus ini adalah hepatitis akut yang terjadi tiga hari setelah dosis pertama kotrimoksazol. Anak yang bersangkutan menunjukkan tanda infeksi virus hepatitis A dan hepatitis B.

Pola resistansi terhadap parasit malaria yang serupa diamati di kedua kelompok penelitian.

Ringkasan: Co-trimoxazole prophylaxis is highly effective against malaria

Sumber: Thera MA et al. Impact of trimethoprim-sulfamethoxazole prophylaxis on falciparum malaria infection and disease. J Infect Dis 192: 1823-1829, 2005.