info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Interaksi HIV dan malaria meningkatan penyebaran kedua penyakit secara luas di Afrika sub-Sahara

18 November 2019, 325 kali dilihat Berita

Interaksi HIV dengan malaria meningkatkan penyebaran kedua penyakit tersebut secara luas di Afrika sub-Sahara. Berita ini dimuat dalam surat kabar The Washington Post berdasarkan laporan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science edisi 8 Desember 2006. Reuters melaporkan bahwa Laith Abu-Raddad dari Universitas Washington dan Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson (FHCRC), beserta rekan menggunakan model matematis untuk memeriksa data mengenai koinfeksi HIV dan malaria. Data ini dikumpulkan di Malawi oleh James Kublin, penulis bersama dari FHCRC.

Menurut Reuters, dengan model ini para peneliti dapat menghitung ’sinergi’ antara HIV dan malaria, yang membunuh jutaan orang setiap tahun di Afrika sub-Sahara. Penularan HIV termudah terjadi ketika seseorang memiliki viral load yang tinggi. Penelitian yang turut dibiayai oleh Pusat AIDS dan STD dan FHCRC-Universitas Washington ini menemukan bahwa malaria adalah meningkatkan viral load sampai tujuh kali lipat yang bertahan selama enam sampai delapan minggu. Penelitian ini juga menemukan bahwa orang HIV-positif lebih rentan terhadap malaria karena kekebalan tubuh mereka melemah.

Menurut Abu-Raddad, di daerah kedua penyakit tersebut sudah umum, HIV mungkin bertanggung jawab atas hampir 10 persen kasus malaria, dan malaria mungkin bertanggung jawab atas kira-kira 5 persen kasus HIV. Penelitian ini berpusat di Kisumu, Kenya; di daerah ini para peneliti menerapkan model matematis untuk menentukan bahwa ada tambahan 8.500 kasus HIV dan tambahan 980.000 kasus malaria selama 20 tahun akibat koinfeksi, demikian dikatakan oleh Abu-Raddad.

Komentar dan reaksi

Abu-Raddad mengatakan bahwa walaupun penularan HIV/AIDS terutama melalui hubungan seks, faktor biologis bersamaan akibat malaria cukup berperan dalam penyebaran HIV. Malaria dapat meningkatkan kemungkinan penularan HIV melalui hubungan seks. Dia juga menambahkan bahwa malaria dapat dianggap sebagai faktor penyebab penting ketiga terhadap penyebaran HIV, selain kenyataan bahwa laki-laki tidak disunat dan adanya herpes kelamin. Kublin menambahkan bahwa melemahnya sistim kekebalan tubuh akibat infeksi HIV menjadi pemicu meningkatnya kasus malaria pada orang dewasa serta mungkin penyebaran malaria di Afrika.

Menurut direktur Institut Nasional Penyakit Infeksi dan Alergi, NIH, AS, Anthony Fauci, laporan penelitian ini penting. “Kita harus jauh lebih serius mengenai tindakan kita terhadap malaria, sekaligus kita juga serius dengan HIV,” Fauci mengatakan. Program penanggulangan malaria “menjadi jauh lebih penting saat kita menyadari bahwa kita tidak hanya berdampak pada satu penyakit tetapi juga pada penyakit lain.” Kublin mengatakan bahwa program pencegahan malaria perlu membidik Odha dan perlu memperluas jangkauan terapi ART.

Ringkasan: HIV, Malaria Interaction Increases Prevalence of Both Diseases in Sub-Saharan Africa, Study Says

Sumber: Malaria, HIV Interact To Speed Spread of Both, Washington Post, 8 Desember 2006