info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Terapi Komplementer Tingkatkan Kekebalan Tubuh

18 November 2019, 480 kali dilihat Berita

Akupunkturis dan herbalis Putu Oka Sukanta menganjurkan terapi komplementer bagi pengidap HIV untuk membantu pengobatan modern yang menggunakan obat antiretroviral atau ARV.

“HIV itu penyakit kronis. Karena itu kita berupaya mendukung orang-orang dengan HIV agar tetap sehat dengan terapi komplementer,” kata Putu Oka Sukanta, yang sekaligus Direktur Program Yayasan Taman Sringanis Putu Oka Sukanta pada diskusi HIV/AIDS di Jakarta, Rabu (24/1).

Dia menjelaskan, terapi komplementer memang tidak untuk membunuh virus HIV, melainkan untuk meningkatkan daya tahan hidup mereka yang mengidap HIV sehingga tetap sehat dan produktif terutama sebelum berada pada fase AIDS.

Terapi komplementer diberikan dengan cara, antara lain, akupressure, olah napas, meditasi, dan mengatur pola makan dengan mengonsumsi makanan sehat.

Menurut Putu Oka Sukanta, olah napas ini sangat penting bagi mereka dengan HIV/AIDS karena terkait dengan CD4. CD4 adalah salah satu bagian dari antibodi yang mempunyai fungsi ganda, yakni memberi “komando” kepada organ-organ tubuh untuk melawan virus yang masuk sekaligus sebagai jalur “tempur”.

“CD4 ini bisa meningkat kalau kita melakukan latihan meditasi atau olah napas,” kata Putu Oka Sukanta.

Ia menambahkan, saat kita menghirup napas secara normal, biasanya hanya 10 persen oksigen yang bisa diserap sel-sel darah. Namun saat meditasi, dengan menghirup napas dan menahan napas sementara waktu, 80 persen oksigen terserap sel-sel darah kita dan meningkatkan CD4.

Sangat membantu

Menurut Idong yang divonis terinfeksi HIV pada 7 Desember 2004, terapi komplementer ini sangat membantu dia dan teman-temannya yang berada dalam satu komunitas.

Saat divonis, Idong mengaku merasa biasa-biasa saja, tidak terlalu terkejut. “Tapi waktu malam saya berpikir, wow ternyata dalam diri saya ada virus yang belum ada obatnya. Saya juga sempat depresi, tapi saya bangkit dan harus bisa memanfaatkan sisa waktu saya sebaik mungkin,” kata Idong yang tetap beraktivitas penuh sepanjang hari.

Ia hidup layaknya orang sehat dan tidak merasa sakit serta berupaya mengajak teman-temannya sesama pengidap HIV/AIDS untuk menjalani terapi komplementer.

“Semula teman-teman tidak percaya kalau hasilnya bagus dan CD4 saya ada kemajuan. Mereka minta bukti, padahal ini kan sesuatu yang abstrak dan susah untuk dibuktikan. Tapi akhirnya mereka percaya dan mau mencoba terapi komplementer seperti meditasi atau olah napas,” papar Idong yang menyesalkan sikap diskriminasi dan stigmatisasi terhadap pengidap HIV/AIDS.

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/25/humaniora/3266911.htm