info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

ART tanpa melek pengobatan berbahaya

16 Februari 2019, 28 kali dilihat Berita

Lebih dari lima juta orang di India yang terinfeksi HIV-positif, tetapi tersedianya sangat sedikit informasi tentang pengobatan ini untuk sebagian besar masyarakat yang tidak fasih berbahasa Inggris dan hidupnya terlantar.

Sebuah buku panduan baru berbahasa Hindi, bahasa nasional India berharap dapat menjembatani ketiadaan informasi dengan memberikan fakta penting secara sederhana dan non-teknis tentang obat antiretroviral (ARV) yang dapat membantu memperpanjang hidup.

“Dalam pertemuan kelompok dukungan setiap bulan, kami menemukan bahwa banyak Odha pengguna terapi ARV (ART) yang bahkan tidak mengetahui nama obat-obatan yang mereka minum dan tidak menyadari efek samping yang ditimbulkannya. Beberapa orang mengenali obatnya hanya dengan warna kemasannya dan banyak yang tidak tahu bahwa memakai ART adalah komitmen seumur hidup. Kami ingin orang mengambil pilihan sarat informasi yang dapat dimengerti. Buku panduan ARV dalam bahasa Hindi yang pertama dari sejenisnya adalah langkah besar menuju ke sana,” demikian dikatakan Mike Tonsing, Wakil Presiden Delhi Network of People Living with HIV and AIDS(DNP+).

Buku panduan yang disusun oleh DNP+ ini sudah disebarkan di klinik ART di ibukota negara New Delhi. Kelompok dukungan HIV-positif dari berbagai wilayah yang berbahasa Hindi, misalnya Bihar dan Uttar Pradesh, juga memberikan buku ini kepada anggotanya.

Tonsing mengatakan, 50 persen yang datang ke pertemuan kelompok dukungan DNP+ adalah ibu rumah tangga yang berpendidikan rendah atau buruh harian yang tidak pernah bersekolah. Langkah berikutnya adalah melalui kaset diperuntukkan bagi kelompok HIV-positif yang buta huruf.

Inisiatif dari DNP+ adalah bagian dari kampanye secara luas yang didukung oleh International Treatment Preparedness Coalition (ITPC), sebuah mekanisme pendanaan berbasis kelompok yang digerakkan oleh Odha dan wakilnya.

Loon Gangte, Koordinator ITPCwilayah Asia Selatan mengatakan bahwa tidak cukup untuk mengangkat masalah ini dalam pertemuan dan konferensi. Kita harus melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk memastikan bahwa setiap Odha mendapatkan kesempatan untuk hidup sehat, produktif dan berumur panjang. Untuk itu, kita tidak hanya membutuhkan advokasi untuk pengobatan tetapi juga kemelekan pengobatan.

Pada 2004 pemerintah India dengan penuh semangat meluncurkan sebuah program untuk menyediakan ART secara gratis kepada beberapa kelompok tertentu di wilayah prevalensi HIV yang tinggi. Dua setengah tahun kemudian, aktivis AIDS dari seluruh wilayah berpendapat bahwa tanpa kemelekan pengobatan yang lebih tinggi serta kepatuhan dan advokasi maka penyaluran ART menghadapi masa depan yang suram.

Tidak ada angka yang dapat diandalkan tentang jumlah Odha yang memakai ART, tetapi menurut perkiraan WHO, dari 770.000 yang membutuhkan ART pada akhir tahun 2004 hanya 12.000 yang terdaftar dalam program pemerintah hingga Agustus 2005.

Banyak Odha mendapatkan pengobatan di luar program pemerintah. Misalnya, angkatan bersenjata dan perusahaan kereta api India memiliki program ART tersendiri untuk karyawannya. Strategi Nasional Program Penanggulangan AIDS Nasional memperkirakan bahwa secara keseluruhan hampir 40.000 Odha mendapatkan ART dari sektor swasta dan pemerintah.

Sejumlah besar Odha yang tidak mendapatkan ART ternyata lebih menonjol di India, salah satu negara dengan pabrik obat ARV generik terbesar di dunia.

Gangte mengatakan, “Harus ada gerakan yang dipelopori Odha untuk mengadvokasi agar tersedianya ART. India sungguh memiliki sumber daya itu. Ini adalah masalah menggabungkan kemauan politik dengan gerakan masyarakat. Tetapi kebanyakan Odha miskin serta tidak diberdayakan dan tidak berani bersuara.”

“Para Odha juga harus menjadi melek pengobatan,” Gangte menambahkan. “Tanpa pemahaman tentang pengobatan, kita tidak dapat mengadvokasi untuk pengobatan. Tanpa pemahaman ini, mereka yang memakai ART bahkan dapat menjadi resistan terhadap obat, karena mereka tidak mengerti pentingnya kepatuhan terhadap terapi tersebut.”