info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Dampak HIV dan ART pada haid

19 Agustus 2019, 280 kali dilihat Berita

Banyak penelitian telah ditemukan bahwa penggunaan ART telah banyak menekan angka kematian akibat masalah terkait AIDS. Tetapi penggunaan ART juga dapat menimbulkan efek samping jangka panjang, termasuk perubahan zat kimiawi dalam tubuh, misalnya perubahan pada tingkat kolesterol, insulin dan gula dalam darah. Perubahan fisik, misalnya perubahan bentuk tubuh, juga dapat terjadi.

Infeksi HIV mengakibatkan perubahan pada siklus tenaga tubuh, metabolisme dan produksi hormon. Hormon membantu mengatur banyak proses dalam tubuh termasuk siklus haid. Dampak ART terhadap siklus haid belum banyak dipelajari. Maka, untuk mengetahuinya, para peneliti dari berbagai kota besar di AS telah bergabung dalam satu penelitian yang luas dan lama, yang menyertakan perempuan dengan HIV. Mereka menemukan bahwa perempuan HIV-positif tampaknya berisiko lebih tinggi terhadap perubahan pada haid. Namun kemungkinan terjadi masalah haid jauh lebih rendah pada mereka dengan jumlah CD4 yang tinggi dan telah memakai ART paling sedikit selama dua tahun.

Perincian Penelitian

Peneliti melibatkan perempuan HIV-positif serta perempuan yang berisiko tinggi tertular HIV. Para perempuan dengan masalah kesehatan yang mungkin berdampak pada siklus haid, misalnya mereka yang mempunyai riwayat kanker rahim, bedah rahim, sedang hamil, dan mereka yang mengkonsumi suplemen hormon, tidak disertakan dalam penelitian ini.

Pendaftaran untuk bergabung dalam penelitian ini terjadi antara 1994 sampai dengan 2002. Setiap enam bulan selama masa tersebut para peserta ini menjalani wawancara mendalam berkaitan dengan kesehatan mereka, serta tes kesehatan dan pemeriksaan rahim. Untuk laporan mengenai kelainan haid, para peneliti membidik pada data dari 1635 perempuan HIV-positif dan membandingkan data ini dengan data dari 595 perempuan yang tidak terinfeksi. Laporan kami difokuskan pada perempuan yang HIV-positif.

Berikut ini adalah profil perempuan pada awal penelitian ini:

Hasil – secara umum

Secara garis besar, tim peneliti ini menemukan bahwa jumlah gejala dan kelainan haid adalah ‘rendah’ di antara semua perempuan dalam penelitian besar ini. Juga, setelah disesuaikan dengan banyak faktor lain termasuk usia, berat badan, dan penggunaan narkoba. Infeksi HIV tidak langsung berhubungan dengan kelainan haid tertentu. Sebagai contoh, 62 persen perempuan yang terinfeksi melaporkan bahwa siklus haid tiga hari lebih dini atau tiga hari lebih lambat, tetapi hal ini juga terjadi pada 62 persen perempuan yang HIV-negatif.

Para peneliti ini menemukan perempuan HIV-positif dengan CD4 di bawah 200 melaporkan lebih banyak masalah haid dibandingkan mereka dengan CD4 di antara 200 sampai 500. Penggunaan ART juga tidak dikaitkan dengan kelainan haid tertentu.

Hasil – Kelainan haid tertentu

Tim peneliti hanya memfokuskan pada beberapa masalah haid yang spesifik di antara para perempuan HIV-positif:

Amenore

Tim menemukan bahwa di antara perempuan HIV-positif pemakai ART berisiko lebih rendah untuk masalah ini. Semakin lama mereka memakai ART, kemungkinan timbulnya risiko ini menjadi semakin kecil.

Oligomenore

Semakin lama perempuan HIV-positif menggunakan ART, kemungkinan terjadinya masalah pun semakin berkurang. Sebagai contoh, para perempuan HIV-positif yang memakai ART kurang dari dua tahun tetap mengalami masalah ini. Tetapi setelah mereka memakai ART dalam kurun waktu dua sampai empat tahun, risiko masalah ini telah berkurang secara berarti. Dan perempuan yang telah memakai ART selama lebih dari empat tahun mempunyai risiko paling rendah terhadap haid yang tidak teratur setiap bulannya (kadang haid, kadang tidak) .

Perdarahan antar haid

Penggunaan ART selama kurang dari dua tahun dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk perdarahan di antara masa haid. Namun bagi perempuan yang telah memakai ART selama dua sampai empat tahun, risiko ini berkurang. Jumlah CD4 yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan penurunan risiko perdarahan saat haid.

Menoragia

Semakin lama memakai ART, semakin rendah risiko atas perdarahan yang berkepanjangan (lebih dari satu minggu). Sebagai contoh, risiko ini hampir hilang pada perempuan yang telah memakai ART selama empat tahun atau lebih. Mereka yang memakai ART selama dua sampai empat tahun berisiko lebih rendah untuk masalah ini. Namun mereka yang memakai ART kurang dari dua tahun berisiko tiga kali lebih tinggi dari normal. Juga, semakin tinggi jumlah CD4, semakin rendah risiko masalah ini.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan

  1. Kelainan haid yang berat tidak lazim terjadi pada perempuan HIV-positif. Ketidakteraturan haid yang ringan ditemukan secara umum pada perempuan HIV-positif. Namun para peneliti ini menambahkan bahwa temuan ini tidak jauh berbeda dengan perempuan HIV-negatif yang serupa secara demografis.
    Tim peneliti berpendapat bahwa karena ketidakteraturan haid yang ringan adalah lazim di antara perempuan HIV-positif, perempuan tersebut dapat menganggap bahwa infeksi HIV bertanggung jawab atas perubahan siklus haid mereka yang biasanya terjadi. Berita baiknya adalah untuk jangka panjang, paling tidak dalam penelitian yang sangat luas ini, para perempuan HIV-positif tidak berisiko lebih tinggi terhadap masalah haid yang berat. Bahkan para peneliti ini menambahkan bahwa perempuan dapat dinyamankan bahwa infeksi HIV sepertinya tidak akan menimbulkan gangguan yang berat dalam siklus haid mereka sampai penyakit HIV itu menjadi lebih lanjut.
  2. Penggunaan ART jangka lebih lama tampaknya mengakibatkan penurunan pada risiko timbulnya kelainan haid, sama halnya dengan jumlah CD4 yang lebih tinggi. Hal ini kemungkinan terjadi karena seiring dengan berjalannya waktu maka secara keseluruhan kesehatan perempuan ini semakin membaik. Tim peneliti berpendapat bahwa perempuan yang sudah dalam kondisi sakit berat (dengan jumlah CD4 yang lebih rendah) mungkin berisiko lebih tinggi untuk mengalami kelainan pada siklus haid. Tim peneliti ini tidak berpendapat bahwa ART memiliki dampak langsung pada siklus haid.
  3. Dengan perempuan semakin tua, terjadi perubahan pada siklus haid mereka. Penelitian ini menilai para relawan muda yang berusia rata-rata 35 tahun. Hasilnya mungkin berbeda dengan perempuan yang lebih lanjut usianya. Tentunya infeksi HIV dan ART mungkin mempunyai dampak yang berbeda pada masalah haid mereka ketika mendekati masa mati haid. Maka tim peneliti ini berencana untuk mendalami tentang masa peralihan menuju mati haid pada kelompok perempuan ini.
  4. Tim peneliti ini tidak secara khusus menelaah apakah ada perbedaan akibat yang timbul pada haid, akibat golongan pengobatan anti-HIV yang berbeda. Keputusan ini mungkin memiliki akibat penting terhadap kesimpulan yang ada. Sebagai contoh, ada beberapa laporan bahwa para perempuan yang memakai protease inhibitor terkadang dapat mengalami perdarahan yang lebih berat selama masa haid.

Ringkasan: The impact of HIV and HAART on menstruation

Sumber
1. Massad LS, Evans CL, Minkoff H, et al. Effects of HIV infection and its treatment on self-reported menstrual abnormalities in women. Journal of Women’s Health 2006 Jun;15(5):591-8.
2. Santoro N, Arnsten JH, Buono D, et al. Impact of street drug use, HIV infection and highly active antiretroviral therapy on reproductive hormones in middle-aged women. Journal of Women’s Health 2005 Dec;14(10):898-905.