info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kejadian anemia berat lebih tinggipada pasien HIV lebih di Afrika daripada di negara industri

16 Februari 2019, 45 kali dilihat Berita

Anemia (kekurangan kemampuan sel darah merah untuk membawa oksigen) dapat menjadi efek samping yang mengganggu pengobatan dengan rejimen yang mengandung AZT. Masalah ini mungkin lebih besar di Afrika karena prevalensi tinggi malaria dan penyakit sel sabitdan ada banyak penderita kurang gizi.

Tujuan penelitian ini, diterbitkan di jurnal Antiviral Therapy edisi Oktober 2006, adalah untuk menggambarkan tentang prevalensi, kejadian dan prediktor anemia berat setelah memulai rejimen antiretroviral yang mengandung AZT pada pasien bergejala HIV dewasa di Afrika yang belum pernah diobati, dengan jumlah CD4 di bawah 200.

DART adalah uji coba secara acak di Uganda dan Zimbabwe yang membandingkan dua strategi penanganan HIV/AIDS: terapi antiretroviral (ART) terus menerus dibandingkan dengan terapi berdenyut (structured treatment interruptions/STI). Hasilnya yang dilaporkan pada International AIDS Conference, Agustus 2006 menunjukkan bahwa pasien pada kelompok STI lebih mungkin mengalami pengembangan penyakit.

Penelitian ini melibatkan 3316 peserta (65% perempuan, 23% berpenyakit WHO stadium 4, usia rata-rata 37 tahun, CD4-nya pada awal 86) sampai dengan Mei 2005. Pada awal rata-rata Hb adalah 11,4 g/dL. Para peneliti menganalisis kejadian anemia pada minggu ke 4 dan 12, kemudian setiap 12 minggu. Memasuki minggu ke 48 para peneliti mengkaji ulang apakah jenis kelamin, usia, stadium penyakit WHO, indeks massa tubuh (BMI), hasil laboratorium pada awal, dan rejimen pertama merupakan prediktor perkembangan anemia Grade 4 (Hb < 6,5 mg/dL).

Hasil

Prevalensi anemia Grade 4 adalah sebagai berikut:

Secara keseluruhan 219 peserta (6,6 persen) mengembangkan anemia Grade 4 sebelum minggu ke 48.

Perempuan dan pasien Hb, jumlah CD4, dan BMI pada awal yang lebih rendah berisiko lebih tinggi terhadap anemia (P < 0,05).

Jumlah neutrofil yang lebih rendah pada awal dan penggunaan kotrimoksazol tidak menjadi prediktor anemia.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, penulis menulis, “Kami mengamati kejadian anemia Grade 4 lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian di negara industri. Hal ini mungkin sebagian karena pola populasi dan sebagian karena angka peristiwa klinis secara bersamaan yang lebih tinggi.”

Para peneliti menambahkan, “Kewaspadaan klinis dan ukuran Hb pada 4, 8 dan 12 minggu setelah memulai AZT dapat membantu menangani anemia berat.”

Ringkasan: Higher Incidence of Severe Anemia among HIV Patients in Africa than in Industrialized Countries

Sumber: F Ssali, W Stöhr, P Munderi, and others (for the DART Trial Team). Prevalence, incidence and predictors of severe anaemia with zidovudine-containing regimens in African adults with HIV infection within the DART trial. Antiviral Therapy 11: 741-749. October 2006.