info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Dokter di Prancis melaporkan kegagalan pengobatan sifilis

16 Februari 2019, 43 kali dilihat Berita

Peningkatan akses pada obat antiretroviral (ARV) di negara berkembang mengungkapan efek samping yang mengecutkan dan mengkhawatirkan, dengan menunjukkan infeksi kusta yang tersembunyi pada beberapa orang HIV-positif yang memakai ARV. Hal ini menurut laporan di New York Times.

Menurut para ahli, terapi ARV (ART) membantu memulihkan sistem kekebalan tubuh, dengan hasilnya sistem tersebut membuat sel darah putih baru yang membawa bakteri dari infeksi kusta yang beristirahat pada kulit di muka, tangan dan kaki.

Para ahli mengatakan bahwa di Brasil dan India, serta juga negara Afrika, Karibea dan daerah lain, beberapa orang HIV-positif yang memakai ART mengembangkan ulkus pada muka dan kehilangan rasa pada jari tangan dan kaki.

Kurang lebih 12 kasus pernah dilaporkan dalam perpustakaan medis sejak 2003. Para ahli mengatakan bahwa kasus jenis ini kemungkinan akan meningkat di negara berkembang; 300.000 kasus kusta yang baru dilaporkan pada negara tersebut tahun lalu dan ada 38 juta orang yang hidup dengan HIV di negara itu.

Gilla Kaplan, profesor di University of Medicine and Dentistry of New Jersey mengatakan bahwa ART akan “mengungkapkan kusta yang tersembunyi dengan menjadikannya bergejala.” Menurut Pierre Couppie – kepala dermatologi di Rumah Sakit Pusat di Cayenne, Guyana Prancis – kurang lebih satu dari 500 orang yang hidup dengan AIDS di negara tersebut akan mengembangkan lesi kusta setelah mulai ART. Para ahli paling prihatin mengenai India, yang sudah melaporkan 5,2 juta kasus HIV dan pada suatu waktu mempunyai 70 persen kasus kusta di dunia.

Menurut para ahli, pandemi kusta atau jumlah tinggi kematian akibat kusta kemungkinan tidak akan terjadi karena penyakit tersebut dapat diobati dengan antibiotik yang disediakan gratis oleh Novartis. Denis Daumerie, yang mengepalai upaya WHO terhadap kusta, mengatakan, “Bukan masalah kesehatan masyarakat. Hal ini adalah masalah untuk pasien sebagai individu.”

Pengobatan untuk penyakit itu membutuhkan penggunaan beberapa pil untuk enam bulan sampai dua tahun, yang dapat menjadi beban tambahan untuk Odha, yang sering kali harus memakai tiga pil [atau lebih] per hari. Tambahannya. karena hanya sedikit diketahui mengenai infeksi HIV dan malaria bersama, mungkin dokter akan membutuhkan beberapa minggu untuk mendiagnosis kusta pada Odha.

Ringkasan: Link Between Antiretrovirals, Leprosy Probable, According to Researchers