info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Merokok dapat mengurangi manfaat ART

20 Januari 2019, 12 kali dilihat Berita

Perokok lebih mungkin didiagnosis dengan penyakit terkait AIDS atau meninggal, dengan demikian meniadakan sebagian manfaat terapi antiretroviral (ART). Hal ini dikemukakan menurut penelitian pengamatan prospektif yang besar terhadap perempuan HIV-positif dari AS. Penelitian ini, yang diterbitkan di American Journal of Public Health terbitan Juni 2006, adalah yang pertama untuk menemukan hubungan antara merokok dan kelanjutan penyakit pada perempuan.

Hingga baru ini, belum ada penelitian terhadap dampak merokok dalam era ART yang manjur. Data sebelumnya dari Galai dan rekan dari Multicenter AIDS Cohort Study terhadap laki-laki gay tidak menemukan hubungan antara merokok dan risiko melanjut ke AIDS atau meninggal, tetapi karena penelitian ini dilakukan sebelum ART tersedia, adalah mungkin bahwa dampak dari merokok ditutupi oleh kedahsyatan HIV.

Tahun lalu Crothers dan rekan menerbitkan data dari kelompok pengamatan prospektif yang besar terhadap 867 veteran laki-laki yang menemukan bahwa perokok yang memakai ART adalah dua kali lipat lebih mungkin meninggal dibandingkan non-perokok, dan lebih mungkin menderita peningkatan pada gejala pernapasan, penyakit halangan paru kronis (chronic obstructive pulmonary disease/COPD), dan pneumonia (radang paru) bakteri.

Penelitian baru menemukan bahwa perempuan HIV-positif yang merokok adalah dua kali lipat lebih mungkin terinfeksi pneumonia bakteri, dan tiga kali lipat lebih mungkin terinfeksi human papilloma virus (HPV), yang dapat mengarah ke kanker leher rahim, sebuah penyakit yang mendefinisikan AIDS.

Untuk menyelidiki apakah merokok berdampak pada kelanjutan penyakit dan kematian pada perempuan yang memakai ART, para peneliti dari Women’s Interagency HIV Study (WIHS) menganalisis data dari penelitian kelompok longitudinal terhadap infeksi HIV di antara perempuan yang dilibatkan di enam tempat perkotaan di AS.

Dari 2.059 perempuan dalam kelompok, 56 persen adalah perokok aktif dan 16 persen mantan perokok. Saat pendaftaran, perokok WIHS yang khas merokok satu pak rokok per hari selama rata-rata 12,4 tahun, kurang lebih sepertiga dari masa hidupnya.

Sejumlah 924 perempuan memenuhi persyaratan untuk analisis tersebut. Persyaratannya adalah perempuan, HIV-positif, memakai ART, dan mempunyai data jumlah CD4, viral load dan merokok.

Selama rata-rata 5,2 tahun pemantauan, kurang lebih 524 perempuan (57 persen) dilaporkan sebagai perokok aktif. Para peneliti menemukan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara perokok dan non-perokok pada awal. Perokok lebih mungkin adalah kaum Amerika Afrika; lebih mungkin pernah memakai narkoba, dengan riwayat hidup penggunaan narkoba suntikan; lebih mungkin terinfeksi virus hepatitis C; dan lebih mungkin didiagnosis AIDS sebelumnya (semuanya p=0,001).

Tambahan, mereka menemukan bahwa jumlah CD4 rata-rata lebih tinggi secara bermakna di antara perokok dibandingkan non-perokok (539 vs. 517; p=0,005), walau perbedaan ini tidak terlihat pada viral load. Namun, lambat laun, jumlah CD4 perokok menjadi lebih rendah dibandingkan non-perokok (p=0,01 untuk kecenderungan). Para peneliti coba menjelaskan hal ini dengan menyatakan bahwa data mungkin “mencerminkan berat sebelah pada seleksi karena pasien yang lebih sehat lebih mungkin pernah merokok.” Namun diketahui bahwa perokok HIV-negatif mempunyai jumlah CD4 yang lebih tinggi, yang memberi kesan bahwa mungkin berat sebelah pada seleksi bukan alasan.

Jumlah kematian yang terjadi selama masa pengamatan adalah 164, dan para peneliti menemukan bahwa perokok mempunyai risiko kematian 53 persen lebih tinggi dibandingkan non-perokok (p=0,018), setelah disesuaikan untuk usia, ras, jumlah CD4, viral load, penggunaan narkoba, AIDS sebelumnya, penggunaan ART sebelumnya, infeksi hepatitis C pada awal, dan faktor risiko infeksi HIV.

Para perokok juga mempunyai risiko mengembangkan penyakit mendefinisikan AIDS yang 36 persen lebih tinggi (p=0,01). Namun risiko kematian terkait AIDS serupa antara perokok dan non-perokok.

Karena para peneliti menemukan bahwa kepatuhan terhadap ART lebih rendah secara bermakna di antara perokok dibandingkan non-perokok, untuk mengurangi dampak kepatuhan yang berpotensi meragukan, mereka membatasi analisis hanya pada perempuan yang melaporkan kepatuhannya lebih dari 95 persen selama masa pengamatan. Namun, perbedaan antara perokok and non-perokok dalam risiko kematian dan penyakit mendefinisikan AIDS tetap bermakna secara statistik.

Para peneliti menyatakan bahwa datanya “secara jelas menunjukkan bahwa perempuan HIV-positif yang merokok mempunyai risiko mengembangkan penyakit mendefinisikan AIDS atau meninggal yang lebih tinggi.” Peneliti tersebut juga menambahkan bahwa ART “tidak sama bermanfaat untuk perokok dibandingkan non-perokok.”

Sementara hal ini mungkin sebagian berhubungan dengan kepatuhan, mereka menganggap “bahkan setelah disesuaikan untuk kepatuhan dan penggunaan narkoba yang dilaporkan, [ART] tetap kurang efektif pada perokok sebagaimana diukur dengan kejadian AIDS dan kematian. Data ini menunjukkan dampak negatif dari merokok walaupun [ART] mungkin efektif untuk mengurangi kematian terkait AIDS pada perokok.”

Namun para peneliti tidak yakin mengapa tidak ada hubungan antara merokok dan kematian terkait AIDS. Mungkin hal ini karena “ketidakmampuan untuk menentukan alasan kematian yang benar pada rangkaian kelompok ini atau karena alasan kematian yang bersaing menghasilkan kematian lebih cepat pada perokok (yaitu perokok meninggal karena alasan akut seperti overdosis narkoba, pembunuhan/ bunuh diri/kecelakaan sebelum meninggal dari alasan terkait AIDS).” Mungkin juga bahwa walau merokok berdampak pada penyakit terdefinisi AIDS – mis. kanker leher rahim dan pneumonia bakteri kambuhan – mereka tidak menghasilkan kematian selama masa pengamatan.

Walaupun para peneliti menyesuaikan untuk faktor penting yang membaurkan misalnya kepatuhan dan penggunaan narkoba, mereka mengakui bahwa “mungkin masih ada beberapa faktor pembauran tersisa yang belum diketahui...Kami tidak dapat mengeluarkan kemungkinan ada data berat sebelah (potential bias) di antara pasien dengan kesehatan buruk yang dapat lebih atau kurang mungkin merokok. Contohnya, seorang pasien dengan kesehatan buruk yang merasa tidak ada kerugian tambahan bila dia memilih merokok, walau ada risiko kesehatan.”

Meskipun demikian, para peneliti menyimpulkan dengan mengatakan bahwa “datanya memberi kesan bahwa pengobatan perempuan HIV-positif dengan ART mungkin kurang efektif pada mereka yang merokok, dan menunjukkan kebutuhan akan mendorong penghentian merokok.”

Ringkasan: Cigarette smoking may undermine benefits of potent antiretroviral therapy

Sumber:
Feldman JG et al. Association of cigarette smoking with HIV prognosis among women in the HAART era. Am J Public Health 96(6): 1060-1065, 2006.
Crothers K et al. The impact of cigarette smoking on mortality, quality of life, and comorbid illness among HIV-positive veterans. Journal of General Internal Medicine 20 (12), 1142-1145, 2005.
Galai N et al. Effect of smoking on the clinical progression of HIV-1 infection. J Acquir Immune Defic Syndr Hum Retrovirol 14: 451-458, 1997.