info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Malaria Datang, AIDS Pun Meluas

18 September 2019, 542 kali dilihat Berita

Malaria dan HIV/AIDS merupakan dua masalah kesehatan global yang sangat serius. Menurut Badan PBB untuk Kesehatan Dunia Khusus AIDS atau UNAIDS, keduanya telah merenggut nyawa lebih dari empat juta orang di banyak negara di dunia setiap tahun.

Luasnya wilayah geografis membuat pengobatan kedua penyakit itu tidak berjalan dengan baik. Hal tersebut membuat interaksi antara malaria dan HIV/AIDS menimbulkan implikasi nyata terhadap kesehatan masyarakat.

Padahal, dulu, sulit mengaitkan di antara keduanya. Malaria disebabkan parasit berwujud mikroba bersel tunggal dari genus Plasmodium, khususnya falciparum. Parasit ini hidup di dalam tubuh nyamuk, terutama dari spesies Anopheles gambiae, dan berpindah ke manusia lewat gigitan nyamuk.

Malaria menyebabkan jutaan jiwa meninggal setiap tahun, 90 persen di antaranya di wilayah tropis Afrika. Malaria merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak dalam lima tahun ini. Selain anak-anak, perempuan hamil juga paling banyak terkena penyakit ini. Wabah penyakit ini menelan biaya pelayanan kesehatan hingga 12 miliar dollar AS (sekitar Rp 108 triliun) per tahun di Afrika.

Sementara HIV menular lewat pertukaran cairan, antara lain hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian pada pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain, serta transfusi darah. Saat ini HIV telah memasuki populasi umum, yakni ibu rumah tangga dan bayi.

Perkembangan HIV/AIDS di dunia kian mengkhawatirkan. Menurut data UNAIDS, tahun 2006 tercatat 39,5 juta orang terinfeksi HIV, sebanyak 24,7 orang di antaranya berada di negara miskin. Di Indonesia sendiri, hingga akhir September 2006, ditemukan 6.987 kasus di 158 kabupaten atau kota. Pada tahun 2006 diperkirakan ada 169.000 hingga 216.000 kasus di Indonesia.

Jumlah HIV meningkat

Namun, ternyata, dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science baru-baru ini, ada kemungkinan keterkaitan antara malaria dan penyebaran virus penyebab AIDS di kawasan Afrika. Interaksi di antara dua penyakit ini dapat membantu mempercepat penyebaran AIDS.

Dua penyakit ini merupakan dua pembunuh terbesar di Afrika. Ketika terinfeksi HIV, daya tahan tubuh pengidapnya menurun sehingga lebih mudah terkena malaria. Saat orang dengan HIV/AIDS (Odha) terkena malaria, HIV dalam darah meningkat dan membuat mereka lebih mudah menularkan virus itu pada pasangan seksual mereka.

Sejumlah ilmuwan yang meneliti masalah HIV/AIDS di Kisumu, Kenya, Afrika, menemukan penyebaran HIV makin cepat dari yang mereka perkirakan hanya terjadi pada kelompok masyarakat dengan perilaku seksual berisiko tinggi. Mereka lalu menginvestigasi kemungkinan keterkaitan dengan malaria yang mewabah di daerah itu.

Hasilnya, malaria diyakini bisa menambah jumlah HIV dalam darah sepuluh kali lebih banyak dari Odha yang tidak kena malaria. “Faktor biologis akibat malaria membantu penyebaran HIV dengan meningkatnya kemungkinan penularan HIV setiap berhubungan seks,” kata Laith Abu Raddad, peneliti dari Universitas Washington, kepada BBC.

“Melemahnya sistem kekebalan tubuh karena terinfeksi HIV memengaruhi adanya peningkatan tingkat infeksi pada orang dewasa yang kena malaria, dan mungkin memfasilitasi ekspansi malaria di Afrika,” ujar James Kublin dari Pusat Riset Kanker Fred Hutchincon menambahkan.

Sejumlah ilmuwan memperkirakan, dari puluhan ribu kasus penularan HIV atau lima persen dari total kasus yang ada dan jutaan kasus malaria, kemungkinan 10 persen dari total jumlah kasus itu merupakan komplikasi antara HIV dan malaria. Ini menunjukkan bagaimana faktor lain mampu memengaruhi percepatan penyebaran HIV.

Padahal, orang dengan HIV berisiko terserang malaria dua kali lebih tinggi dibandingkan orang tanpa HIV. Dalam studi yang melibatkan 484 pasien dengan dan tanpa HIV di Uganda selama delapan tahun, hampir 12 persen dari pasien HIV terinfeksi parasit malaria. Sedangkan dari total jumlah pasien yang tidak terinfeksi HIV, hanya 6,3 persen yang terkena malaria.

Pasien HIV dengan jumlah CD4 – sel darah putih yang dibutuhkan dalam sistem kekebalan tubuh – rendah, juga meningkatkan jumlah parasit malaria. “HIV infeksi dikaitkan dengan peningkatan frekuensi penderita malaria,” kata Dr. Whitworth. Hal ini membuat gagalnya sistem pertahanan tubuh terhadap penyakit, dan menimbulkan masalah kesehatan masyarakat di sub-Sahara Afrika.

Dr Terry Taylor, pakar malaria dari Michigan State University, memaparkan, dampak adanya HIV pada penderita malaria meningkatkan beban bagi sistem pelayanan kesehatan masyarakat. “Implikasi bagi kesehatan masyarakat meluas karena kemungkinan orang yang terinfeksi HIV juga membawa parasit malaria,” ujarnya saat dihubungi kantor berita Reuters.

Rentan tertular

Para ahli kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga membenarkan keterkaitan antara HIV/AIDS dan malaria. Kaum perempuan hamil berisiko tinggi terkena anemia dan infeksi malaria pada plasenta. Hal ini mengakibatkan anak-anak lahir dari ODHA perempuan yang menderita malaria memiliki berat badan lahir rendah dan rentan terinfeksi penyakit hingga meninggal dunia.

Di daerah endemik di sub-Sahara Afrika, setiap tahun sekitar 25 juta perempuan hamil menderita malaria. Sekitar 10,5 juta orang di antaranya terkena malaria beberapa kali. Perempuan hamil yang terinfeksi HIV lebih mudah terserang malaria. Diperkirakan, jika prevalensi perempuan hamil dengan HIV di sub-Sahara Afrika sembilan persen, 500.000 perempuan akan terinfeksi malaria selama hamil.

Sejauh ini masih belum bisa dipastikan apakah malaria selama masa kehamilan dapat meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Yang jelas, pria dewasa dan perempuan tidak hamil dengan HIV/AIDS juga berisiko menderita malaria, khususnya jika kekebalan tubuhnya telah jauh berkurang. Di wilayah endemik malaria, infeksi HIV kemungkinan meningkatkan risiko penyebaran malaria.

Untuk mengurangi risiko terjadi infeksi malaria dan HIV pada seseorang, perlu ada upaya pencegahan dan program pengobatan secara bersamaan. Hal ini membutuhkan kerja sama dan komitmen politik maupun finansial untuk mengurangi beban yang ditimbulkan karena HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria.

Keterkaitan malaria dengan AIDS dikhawatirkan dapat mempercepat terjadinya ledakan kasus HIV/AIDS di Tanah Air. Apalagi selama ini Indonesia dikenal sebagai negara tropis dan memiliki sejumlah daerah endemik malaria dengan perkembangan kasus HIV/AIDS terus meningkat. Di Papua, misalnya, hingga September 2006, total angka kasus HIV/AIDS mencapai 1.817 jiwa, dan 865 orang di antaranya termasuk AIDS.

Oleh karena itu, WHO merekomendasikan agar perlindungan bagi ODHA di wilayah endemik malaria dari gigitan nyamuk pembawa parasit malaria sebagai prioritas utama pemerintah setempat dalam penanganan kesehatan. Perempuan hamil dengan HIV positif di daerah endemik malaria juga harus mendapat upaya preventif dengan sulfadoksin-pirimetamin atau profilaksis kotrimoksazol.

Program pengendalian HIV/AIDS dan malaria sebaiknya dikolaborasi untuk memastikan pelayanan kesehatan yang terintegrasi. Caranya, dengan menyediakan alat diagnostik untuk kedua penyakit itu, obat antiretroviral (ARV) dan pengobatan antimalaria lebih efektif. Penelitian mengenai interaksi kedua penyakit itu perlu dilanjutkan untuk mengetahui keefektifan pengobatan.

“Adanya keterlibatan ganda antara malaria dan HIV memang harus jadi perhatian serius seluruh jajaran petugas kesehatan di Indonesia. Berbeda dengan TBC, pengobatan malaria relatif cepat sehingga jangan sampai terlambat didiagnosis. Jika terlambat, kondisi pasien telanjur memburuk menjadi AIDS,” kata Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia (MPAI) Zubairi Djoerban menegaskan.

Sayangnya, hal ini kurang diwaspadai orang dengan HIV maupun petugas kesehatan yang menangani. Sebab, jumlah Odha yang terkena malaria relatif kecil dibandingkan komplikasi penyakit lain seperti hepatitis C dan TB. “Dengan banyaknya daerah endemik malaria, penanganan pasien HIV dengan malaria harus dilakukan sejak dini agar tidak sampai menular,” tuturnya.

URL: http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0612/15/120755.htm

Edit terakhir: 20 Mei 2007