info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Vaksinasi untuk Odha Dewasa

15 Februari 2019, 67 kali dilihat Index

Apa Itu Vaksinasi?

Vaksinasi, atau imunisasi, adalah jenis pengobatan yang merangsang ketahanan tubuh kita terhadap infeksi tertentu. Sebagian besar orang diimunisasi terhadap beberapa infeksi waktu bayi. Sebagian besar vaksin diberi melalui suntikan, tetapi ada yang dipakai melalui mulut. Dibutuhkan beberapa minggu setelah diberi sehingga sistem kekebalan tubuh bereaksi pada vaksin yang diberikan. Vaksin umumnya sangat aman.

Sebagian besar vaksin dipakai untuk mencegah infeksi. Tetapi, beberapa yang lain membantu tubuh kita untuk melawan infeksi yang sudah ada. Vaksin ini disebut ‘vaksin terapeutik.’ Ada beberapa vaksin terapeutik yang sedang diteliti dan diuji coba terhadap HIV.

Vaksin ‘hidup’ memakai bentuk kuman yang dilemahkan. Vaksin ‘dinonaktifkan’ (inactivated) tidak memakai kuman yang hidup.

Vaksin dapat menimbulkan efek samping. Dengan vaksin hidup, kita mungkin mengalami penyakit yang ringan. Dengan vaksin dinonaktifkan, kita mungkin mengalami kesakitan, kemerahan, dan bengkak di tempat yang disuntik. Kita juga mungkin merasa lemas, kelelahan, atau mual selama waktu yang singkat.

Apa yang Berbeda untuk Odha?

Sistem kekebalan tubuh yang sudah dilemahkan oleh HIV mungkin tidak dapat bereaksi secara baik pada vaksin. Jangka waktu efektivitas vaksin dapat lebih singkat. Bila kita baru saja akan mulai terapi antiretroviral (ART), mungkin tanggapan terhadap vaksin lebih baik bila kita menunggu sampai jumlah CD4 meningkat.

Hanya sedikit penelitian dilakukan terhadap penggunaan vaksin oleh Odha, apalagi sejak ART sudah dipakai. Namun ada beberapa petunjuk penting untuk Odha:

Vaksinasi yang Disarankan

Belum ada pedoman khusus di Indonesia mengenai vaksinasi untuk Odha dewasa. Yang berikut berdasarkan pedoman di AS dan pedoman Indonesia umum untuk orang dewasa. Sebaiknya dibahas dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi apa pun.

Penyakit Pneumokokus: Odha, terutama perokok, lebih rentan terhadap penyakit ini, yang dapat menyebabkan radang paru. Odha diusulkan divaksinasi dengan PPV-23. Bila divaksinasi waktu jumlah CD4 di bawah 200, sebaiknya diulang vaksinasi setelah naik di atas 200. Vaksinasi harus diulang satu kali setelah lima tahun.

Hepatitis: Lihat Lembaran Informasi (LI) 505. Hepatitis disebabkan oleh berbagai macam virus. Laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki dan pengguna narkoba suntikan lebih rentan terhadap virus hepatitis A, B dan C. Ada vaksin terhadap hepatitis A dan B. Dua suntikan vaksin hepatitis A melindungi selama 20 tahun. Bila kita pernah terpajan hepatitis B, kita sudah kebal. Bila kita belum terpajan hepatitis B, sebaiknya kita mendapatkan vaksinasi. Seri tiga suntikan vaksinasi hepatitis B yang tuntas seharusnya melindungi kita kurang lebih 20 tahun. Status kekebalan terhadap hepatitis B sebaiknya dinilai secara berkala oleh Odha, terutama bila jumlah CD4-nya rendah.

Human Papilloma Virus (HPV) (lihat LI 507): Tersedia vaksin terhadap empat jenis HPV, yang menyebabkan kutil pada dubur, dan kanker vagina atau dubur. Vaksin ini diusulkan dipakai oleh laki-laki di bawah usia 21 tahun dan perempuan di bawah usia 26 tahun. Vaksin ini paling efektif bila dipakai sebelum menjadi aktif secara seksual.

Flu: Vaksin flu harus diperbarui setiap tahun, berdasarkan tipe flu yang paling aktif saat itu. Flu dapat berkembang menjadi pneumonia. Beberapa vaksin flu dapat menyebabkan reaksi alergi pada orang yang mempunyai alergi terhadap telur. Kemenkes mengusulkan vaksinasi terhadap flu setiap tahun untuk semua orang, terutama untuk jemaah haji.

Tetanus dan Difteri (Td):Tetanus adalah penyakit gawat disebabkan oleh bakteri yang umum. Infeksi tetanus dapat terjadi melalui luka pada kulit. Para penasun lebih berisiko terhadap tetanus. Difteri juga adalah penyakit bakteri. Vaksin terhadap difteri selalu digabungkan dengan vaksin tetanus.

Vaksin Td (bersama dengan vaksin terhadap pertusis; vaksin gabungan ini disebut Tdap) biasanya diberikan pada anak sebagai seri tiga suntikan. Satu suntikan ulang diberikan setiap sepuluh tahun sebagai penguat (booster). Odha sebaiknya jangan divaksinasi ulang lebih sering, walau boleh lima tahun bila cedera.

Pertusis (batuk rejan): Ini adalah penyakit bakteri lain yang menyebabkan batuk berkepanjangan. Vaksinasi Tdap harus mengganti booster Td berikutnya. Setelah kita telah terima satu vaksinasi Tdap, kita hanya perlu menerima booster Td di masa depan karena tidak dibutuhkan vaksinasi pertusis berulang-ulang.

Campak, Gondong dan Rubela: Ketiga penyakit ini disebabkan oleh virus. Anak seharusnya divaksinasi terhadap penyakit ini dengan suntikan yang disebut sebagai ‘MMR’. Vaksin ini biasanya memberi perlindungan seumur hidup. Bila belum divaksinasi pada masa kanak-kanak, Odha sebaiknya divaksinasi, asal CD4-nya di atas 200 (MMR adalah vaksin hidup).

Tifoid: Demam tifoid (‘tifus’) disebabkan oleh bakteri. Kemenkes mengusulkan semua orang Indonesia divaksinasi terhadap tifoid setiap tiga tahun. Vaksinasi tidak berisiko untuk Odha asal tidak dipakai vaksin hidup. Vaksin ini jarang menimbulkan efek samping, tetapi kadang kala ada sedikit rasa sakit pada bekas suntikan yang akan segera hilang.

Meningitis meningokokal: Perjangkitan meningitis kian sering, terutama pada kampus. Odha lebih rentan terhadap penyakit ini jika terpajan.

Odha Wisatawan

Odha wisatawan sebaiknya divaksinasi terhadap hepatitis A dan B.

Beberapa negara mengharuskan wisatawan melakukan vaksinasi. Asal vaksin tidak hidup, biasanya ini tidak masalah, kecuali yang dibahas di atas. Sebaiknya hindari vaksin hidup, termasuk untuk demam kuning (lihat di atas).

Sebagai alternatif divaksinasi dengan vaksin hidup, kita sebaiknya minta pernyataan dokter yang menjelaskan bahwa kita mempunyai alasan medis untuk tidak diberikan vaksinasi tersebut. Surat tersebut diterima oleh yang berkuasa di sebagian besar negara.

Diperbarui 1 Juli 2014 berdasarkan FS 207 The AIDS InfoNet 23 Mei 2014 dan informasi dari Kemenkes RI